Tampilkan postingan dengan label catetanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catetanku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2012

Masa Lalu Sampai Masa Kini

Rasa haus dan penasaran bangsa belanda akan ilmu pengetahuan telah ada sejak lama. Saya hanya mengambil dua dari banyak ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini untuk menjabarkan rasa haus dan penasaran orang belanda akan ilmu pengetahuan.
 Dulu beberapa orang belanda merasa penasaran akan bagaimana kehidupan masyarakat di Nusantara khususnya Jawa. Menurut mereka kehidupan di Nusantara begitu unik dan aneh. Rasa penasaran muncul dihati mereka, akhirnya mereka mempelajari pola kehidupan yang ada di Nusantara, khususnya Jawa, orang yang mempelajari Jawa ini sering disebut sebagai Javanolog (peneliti Jawa/ahli Jawa). Dalam beberapa buku yang saya baca, mereka berhasil mengetahui bagaimana sistem Kerajaan di Jawa berjalan, bahasa sehari-hari yang digunakan , kelas sosial, sistem perekonomian, dll. Banyak orang bercerita bahwa arsip tentang Jawa di Leiden cukup lengkap, bahkan ada yang bercerita bahwa itu yang terlengkap di dunia.
Selain itu orang Belanda begitu kreatif dan total ketika menuliskan sejarah suatu bangsa, yang saya ketahui kebanyakan mengenai sejarah Indonesia tentunya. Beberapa sejarawan yang berada di KITLV (The Royal Netherland Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) sangat memiliki pikiran yang sungguh kreatif mengenai bahasan apa yang mereka bawa dalam ranah sejarah itu. Banyak sekali ide-ide baru para sejarawan ini dalam dunia historigrafi Indonesia pada khususnya. Totalitas mereka dalam melakukan penelitian juga tak diragukan lagi.
Salah satu buku editan dari Henk Schulte Nordholt yang berjudul ’’Outward Appearances: Dressing State and Society in Indonesia” merupakan sebuah karya yang menarik bagi seorang sejarawan. Dalam buku itu beberapa sejarawan membahas tentang pakaian yang ada di Indonesia pada zaman Hindia Belanda pada khususnya, dari pembahasannya mengenai pakaian itu dia bisa menganalisa tentang identitas, sistem kelas, hingga pluralisme. Analisis yang kreatif dilakukan oleh sejarawan Belanda dalam buku ini. Harry A Poeze juga seorang sejarawan yang berasal dari Belanda ini memiliki sebuah totalitas yang sangat hebat. Dia menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk meneliti seorang tokoh Indonesia bernama Tan Malaka. Beberapa diskusi bersamanya pernah saya ikuti. Dia mengatakan bahwa sudah lebih dari tigapuluh tahun di meneliti Tan Malaka ini. Rasa penasaran untuk menemukan sesuatu hal yang baru yang membawanya kepada penelitian yang cukup panjang ini. Pertanyaan baru selalu muncul dalam kepalanya sehingga dia harus memecahkan masalah yang ada di kepalanya itu.
Sejak dulu orang Belanda memang tak selalu puas dengan apa yang telah mereka teliti atau ciptakan, atau bahkan apa yang sudah diciptakan orang lain. Hal itu membuat diri mereka menjadi penasaran akankah mereka bisa membuat suatu hal yang baru dari apa yang telah ada. Mulai dari javanolog dimasa lalu sampai sejarawan masa kini terus mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan baru dalam otak mereka untuk menjawab rasa penasaran mereka. Mungkin tak hanya dalam sejarah saja orang belanda berpikir begitu. Dalam ilmu selain sejarah saya juga yakin mereka memiliki rasa penasaran yang sangat kuat sehingga membuat mereka selalu bertanya kepada diri mereka sendiri hal baru apa yang bisa mereka lakukan dari bidang ilmu mereka? Tentunya pertanyaan yang muncul dari dalam diri mereka itu akan mengahasilkan ide-ide segar bagi ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini. 

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Senin, 07 Mei 2012

Agama: Politik dan Kepentingan

Beberapa lama saya mengamati perkembangan organisasi agama yang ada di Indonesia ini saya menemukan beberapa hal yang menjadikannya sebuah hal yang tak suci lagi. Kenapa? Karena pada dasarnya agama adalah sebuah hal yang dianggap suci oleh beberapa orang, atau mungkin lebih tepatnya agama merupakan hal sangat sakral dalam kehidupan kita. Ritus ritus suci yang dilakukan kita untuk  menghormati atau menyembah kepada yang menciptakan dunia dan isinya ini telah berjalan lama sekali. Ritus-ritus inilah yang membuat agama itu menjadi sesuatu yang sakral. Mungkin juga hal lain yang membuat agama ini menjadi lebih sakral yang belum saya temukan saat ini.
Selain agama itu sakral, agama itu menurut saya sebenarnya adalah sebuah hasil kebudayaan yang sangat toleran di dunia ini. Mengapa akhir-akhir ini agama atau organisasi agama di Indonesia menjadi kurang toleran dan menurut saya kesakralan itu berkurang drastis.
Agama adalah sebuah kebudayaan yang banyak dianut oleh manusia didunia ini. melalui agama kita bisa mendoktrinkan ideologi-ideologi kita atas nama tuhan. Agama menjadi sebuah alat yang sangat berpengaruh dalam suara politik Indonesia. Melalui beberapa rekayasa yang dilakukan kita bisa menggunakan agama sebagai sebuah senjata politil yang sangat tajam dan membunuh.
Agama di Indonesia digunakan sebagai alat untuk mencari suara terbanyak dalam mencari suara sebanyak-banyaknya sehingga legitimasi kekuasaan dan politik itu akan menjadi lebih kuat. Beberapa organisasi Agama digunakan oleh beberapa partai politik untuk mencari suara terbanyak. Bagaimana ini bisa terjadi, bukankah agama itu hasil kebudayaan yang sudah menjadi alat. Secara hermeunitis pun sudah jelas tersirat bahwa agama itu berarti teratur. Dari arti tersebut tentunya agama ini telah menjadi sebuah alat yang mengatur wilayah-wilayah tertentu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika agama ini dijadikan alat politik tentunya sifat yang sebenarnya ada dalam agama itu menjadi berkurang atau bahakan hilang sama sekali. Agama hanya menjadi sebuah simbol yang bisa menarik suara sebanyak-banyak suara. Ketika seorang petinggi politik misalnya ingin menggunakan sebuah simbol agama mayoritas yang ada di Indonesia kemungkinan besarnya dia akan mendapat dukungan banyak dari penganut agama tersebut.
Apakah memang seharusnya agama berjalan seperti itu? Apakah agama hanya akan menjadi alat politik? Bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Tergantung bagaimana cara berfikir umat dari agama-agama tersebut untuk menentukan jalan baik seperti yang diperintahkan agama-agama itu, atau mereka akan memilih untuk mempertahankan eksistensi agama mereka lewat jalan apapun dan melupakan yang sudah diperintahkan agama mereka.
Setiap orang tentu memiliki ideologi dan cara mereka sendiri untuk menterjemahkan agama yang mereka yakini. Selain itu manusia juga sangat eksistensial sekali, seperti yang saya dapatkan bahwa orang itu ketika mereka sadar bahwa mereka ini siapa, untuk apa, bagaimana mereka, seperti apa posisi mereka dalam masyarakat ini merupakan titk sadar orang akan ke esksisan mereka dalam hiduo ini. Ketika orang menyadari itu maka mereka akan membawa kepentingan mereka kedalam masyarakat. Sebuah kepentingan untuk menjadi siapa, bagaimana, dan posisi seperti apa. Dalam kondisi yang seperti ini manusia mulai mencampur adukan kepentingannya terhadap kepentingan golongan, organisasi, kelompok sosial atau apalah. Saat inilah kepentingan organisasi agama itu akan tersusupi oleh ideologi-ideologi tertentu.
Kelompok atau organisasi agama sebenarnya sebuah hal yang baik, baik karena mereka mencoba membangun komunikasi antar umat seagama ataupun umat lintas agama. Namun apakah ini akan menjadi baik ketika sudah disusupi kepentingan-kepentingan tertentu dalam perjalanannya. Kita lihat saja akhir-akhir ini beberapa organisasi agama yang lebih terkenal dengan ormas (organisasi masyarakat) malah menjadi sebuah pemicu konflik-konflik kecil antar agama, atau ketika mereka mulai merusak fasilitas umum di Indonesia, selain itu bisa jadi mereka telah merusak tatanan sosial negara kita.
Beberapa organisasi agama ini juga sudah mengambil alih peran para aparat negara yang berwenang. Mereka dengan seenaknya melakukan sweeping terhadap golongan-golongan tertentu atas nama agama mereka. Simbol-simbol agama mereka gunakan sebagai alat untuk mendapat pengakuan atas keberadaan mereka ditengah masyarakat, jadi ketika mereka melakukan sweeping terhadap golongan tertentu mereka tidak akan mendapatkan sebuah perlawanan yang berarti dan malah sebaliknya mereka akan mendapatkan dukungan yang sangat besar dari masyarakat. Tak hanya sweeping mereka juga membubarkan acara diskusi atau acara lain yang mereka anggap tidak sejalan dengan mereka.
Kepentingan membawa organisasi agama ini kedalam sebuah jurang yang teramat dalam. Jurang yang siap memangsa mereka.
Selain itu eksistensi juga merupakan faktor terbesar dalam pergeseran ini. mereka ingin dianggap bahwa diri mereka ada dalam masyarakat. Menggunakan cara apapu mereka melakukannya. Apakah muka organisasi agama seperti itu?
Agama adalah sebuah hasil kebudayaan yang sangat toleran itu sangat masuk akal menurut saya. Dari beberapa ajaran agama yang telah saya baca semuanya itu memerintahkan para umatnya untuk membuat sebuah kebaikan kepada umat lain bukan untuk menyakiti. Hal itu menurutku merupakan hal yang sangat mendasar dalam ideologi agama. Tapi mengapa agama dan organisasi agama pada khusunya menjadi kurang toleran pada saat ini? akan menjadi toleran atau tidak itu tergantung manusianya sadar atau tidak!

Salam Pluralis!!!

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Arsitektur dari Waktu ke Waktu

Belanda memiliki masa lalu yang begitu panjang. Tak hanya di Negara Belanda itu sendiri namun juga ketika zaman kolonialisme merajai dunia. Belanda pernah memiliki negeri jajahan di wilayah timur jauh yang disebut dengan Hindia Belanda. Hindia Belanda ini berkedudukan di Indonesia pada saat ini. Hindia Belanda awalnya terbentuk dari kongsi dagang yang bernama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Beberapa tahun VOC ini berada di Nusantara, lalu VOC mengalami kerugian dan Kerajaan Belanda berniat untuk mengambil alih posisi ini.
Saya tidak ingin mengulik lagi bagaimana kehidupan masyarakat belanda di Hindia Belanda, atau kolonialisme seperti apa yang terjadi di Hindia Belanda. Saya hanya ingin membahas bagaimana arsitektur belanda ini ada dari waktu ke waktu, seperti yang ada dalam judul tulisan ini.
Ketika masyarakat Eropa dan Belanda pada khususnya datang ke Indonesia tentu mereka membutuhkan waktu untuk tinggal di Nusantara. Mereka melakukan kegiatan ekonomi yang bersumber pada hasil perkebunan serta perdagangan rempah-rempah. Tentu mereka mutlak harus memiliki tempat tinggal di Indonesia. Mereka pun mendirikan rumah-rumah yang khas dengan gaya mereka, memiliki atap yang tinggi, tembok tebal, jendela yang tinggi pintu yang tinggi. Bangunan itu sering kita sebut sebagai bangunan gaya Belanda.
Atap atau langit-langit yang tinggi, banyaknya jendela yang tinggi-tinggi pula bermaksut untuk membuat rumah mereka terasa lebih sejuk lagi. Karena mereka tak tinggal di wilayah subtropis melainkan wialayah tropis yang cukup panas, suhu terendah diwilayah indonesia rata-rata adalah 22° C itupun suhu terendahnya. Belum cukup sejuk untuk mereka, cukup terasa panas didalam rumah. Secara segi arsitektur orang-orang Belanda sudah sangat kreatif pada saat itu untuk memikirkan bagiamana agar banyak angin yang masuk kedalam rumah dan bisa menjadikannya lebih sejuk lagi. Mereka menginovasikan rumah yang sedemikian rupa sehingga bisa membuat penghuninya lebih nyaman lagi. selain rumah, masyarakat belanda yang ada di Hindia Belanda juga membangun jembatan benteng, atau bangunan-bangunan lain. Bangunan-bangunan itu sampai sekarang masih nampak kokoh menantang alam sekitarnya. Terbukti dari sini bahwa kehandalan dari para orang-orang belanda untuk membangun bangunan pada saat itu.
Terbukti juga pada masa kini beberapa arsitek Belanda memenangkan beberapa penghargaan berskala dunia. Seperti misalnya Herman Hertzberger yang dianugrahi Royal Gold Medal pada tahun ini. Hertzberger telah mengubah cara pandang orang tentang bangunan, baik sang arsitek maupun si pengguna. Konsep yang ia gunakan adalah konsep ruang dan bentuk. Selain itu ada juga Rem Koolhaas yang memenangkan Lifetime Achievement Award dari sebuah biennale di Venezia ini membawa kebaruan dalam dunia arsitektur. Semua kemungkinan dalam arsitektur ia perluas. Hal ini tentu menandakan orang Belanda selalu berpikir kreatif akan suatu hal baru yang harus mereka miliki dan dibawa ke dunia luas melalui ilmu yang mereka pelajari.
Bangunan-bangunan bangsa Belanda yang ada di Indonesia sudah berusia ratusan tahun, bangunan bangunan itu telah melintasi ruang waktu. Bangunan-bangunan Belanda ada dari waktu ke waktu. Bangunan-bangunan lama dan baru dari bangsa Belanda masih berdiri kokoh menjadi saksi kebesaran kreatifitas bangsa ini dalam arsitektur dan desain. Penghargaan yang diraih oleh arsitek Belanda juga tak lepas dari dari kerja kreatif mereka akan hal baru yang dibawa ke dunia arsitektur dan desain.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Kamis, 14 Juli 2011

I'm not Religious but the Godless #2

I just wanted to tell me of my anxiety, especially anxiety about the religious life in my country Indonesia. Religious life in Indonesia in recent years, much damaged by several groups that will bring all interest groups, whether political interests, identities and interests of others alone. Damage which I think is very impact at all on our lives, especially the religious life. For example in case of attacks on religious organizations by other religious organizations.
In addition there is one thing that I think is also important to criticize.  In my country, everyone should have religion in accordance with their beliefs,  but there are only six recognized religions. People on the identity card did not fill their religion will be illegal here. The government has a special department also takes care of religious matters. Is when people of religion should be regulated by the state? It was not religion that is everyone's right? Is their religion by force?

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

I'm not Religious but the Godless #1

I think religion is the term, this term is possible because humans need order in their lives. In some research I did this religion aims to make life more orderly. But what if religion is now no longer in control of humans who follow this tradition for religion?

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Minggu, 15 Mei 2011

Karnaval Paku Tidar


Karnaval Paku Tidar adalah sebuah acara kirab budaya yang diadakan pada hari sabtu tanggal 14 Mei 2011 , dan bertujuan memberikan pesan perdamaian. Acara ini diikuti oleh berbagai etnis yang ada di Magelang, sebagai kampanye perdamaian. Jika sesuai dengan jadwal acara kemarin dimulai dengan prosesi ritual dan doa di Puncak Gunung Tidar (13.00), dilanjutkan kirab budaya (14.00), diikuti ratusan seniman, mengusung delapan tandu pesan alam dan perdamaian. Di panggung pagelaran Alun-alun (15.00), pagelaran seni budaya tradisional kontemporer, orasi Budaya Gus Yusuf, Wawali Joko Prasetyo, apresiasi sastra dan doa lintas agama. Namun sayang kemarin hujan deras menghalangi kami, sehingga acara agak terhambat. Kebanyakan dari pemain membawa properti yang akan rusak jika kena air, maka mereka harus berhenti sejenak.
Ini adalah beberapa foto dari Karnaval Paku Tidar.




Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Rabu, 04 Mei 2011

Tak Ada Kepedulian

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi atas aksi yang dilakukan oleh kawan-kawan yang tergabung dalam komite masyarakat progresif anti komersialisasi pendidikan ( KAMPAK ) yang bertujuan untuk melawan segala bentuk komersialisasi pedidikan.
Pada hari Pendidikan Nasional tahun ini, tepatnya tanggal 2 mei 2011 teman-teman mahasiswa yang peduli akan kebijakan yang dirasa menindas mahasiswa mengadakan sebuah aksi yang dimulai dari bunderan UGM. Aksi tersebut bertujuan melawan kebijakan kampus yang dirasa tidak lagi berpihak sepenuhnya pada pendidikan. Aksi ini juga merupakan kelanjutan dari protes atas dilakukannya kebijakan Kartu Identitas Kendaraan ( KIK ).
Komersialisasi kampus merupakan sebuah bentuk yang menurut saya adalah hal yang akan merusak pendidikan. Hal ini juga tak lepas dari apa yang kita kenal sebagai kapitalisme, saya menyebutnya sebagai sebuah serangan kapitalisme kedalam pendidikan. bagaimana ini tidak terjadi apabila pihak yang seharusnya secara penuh memberikan pendidikan yang mencerdaskan, memilih untuk lebih berpikir bagaimana cara menambah devisa kampus. Dalam salah satu kasus yang terjadi di UGM terkait hal ini adalah Kartu Identitas Kendaraan ( KIK ). Para petinggi kampus, atau jajaran rektorat beralasan bahwa KIK ini bertujuan untuk mengurangi banyaknya kendaraan yang keluar masuk UGM. Alasan yang mereka lontarkan adalah untuk ikut berpartisispasi mengurangi global warming dan faktor keamanan dilingkungan kampus UGM, namun apakah cukup dengan cara seperti itu? Penarikan uang Rp. 1000 yang merupakan bagian dari kebijakan KIK adalah sebuah pembodohan menurut saya. Jika memang itu benar untuk pembiayaan cetak karcis dan yang lainnya, kenapa dari pihak kampus tak pernah ada transparasi dana terkait penarikan uang itu. Selain itu kebijakan ini pun belum dirasa efektif dengan alasan global warming dan keamanan oleh beberapa mahasiswa yang kritis dengan kebijakan KIK.
Mahasiswa yang seharusnya memiliki hak untuk melawan ini pun jarang ikut aksi menolak kebijakan KIK yang dirasa merugikan mahasiswa dan masyarakat sekitar UGM. Dari sekitar 9000 mahasiswa per angkatan, hanya sekelumit saja yang peduli akan kebijakan yang merugikan mereka. Berangkat dari hal ini pula, saya menjadi tidak yakin mahasiswa atau dosen yang ada di UGM kritis terhadap masalah yang ada di sekitar mereka. Memang beberapa sadar, namun apakah kesadarn itu akan berfungsi jika berlaku pada sekelumit orang saja dari ribuan orang? Kesadaran dan kepedulian sangat penting dalam hal ini, sayangnya orang yang bisa sadar dan peduli hanya sedikit saja, hanyalah orang-orang benar-benar memiliki pikiran kritis. Berarti orang kritis saat ini sangat kurang dalam ranah akademis. Akademisi yang ada hanyalah akademisi yang hanya mengamini sistem yang ada, tidak mengkritisi sistem itu apakah jalannya benar dan effektif, dan bukan untuk mengajukan sebuah alternatif sistem yang baru untuk kebaikan dimasa mendatang, namun mereka hanya mengiyakan apa yang sudah ada, yang penting adalah tetap mendapatkan uang dan penghidupan yang layak.
Sungguh sangat sayang jika keintelektualan seseorang hanya akan menjadi keintelektualan yang mata duitan, bukan intelektual untuk bisa mengabdi ke masyarakat dan membuat masa depan menjadi lebih baik lagi. Mereka hanya bercita-cita hidup layak yang tak pernah peduli dengan kesusahan orang lain dan berpikir bagaimana cara untuk mengentaskan kesusahan yang dihadapi orang lain. Apakah hal semacam ini yang akan dicetak oleh perguruan-perguruan tinggi yang berisikan para intelektual dan diharapkan bisa membawa bangsa ini ke dalam masa yang lebih baik dari sekarang?

Bersambung...

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Rabu, 02 Maret 2011

Munculnya Gerakan Islam Radikal-Fundamental 1990-an

Gerakan Islam Indonesia saat ini diwarnai dengan gerakan Islam radikal-fundamental. Gerakan ini mulai muncul secara terbuka pada tahun 90-an. Gerakan ini cukup banyak peminatnya, mulai dari kalangan mahasiswa, pelajar dan kelompok terdidik lainnya.
Pada tahun 70-80an pemerintah bersikap keras pada kelompok-kelompok ini. Jika muncul gerakan Islam radika-fundamentalis sekecil apapun akan diberantas oleh pemerintah. Karena pemerintah beranggapan bahwa gerakan ini dapat mengancam keutuhan negara pada saat itu. Namun kasusnya menjadi berbeda ditahun 90-an. Saat itu Soeharto mulai kehilangan kepercayaan dari kalangan militer dan juga klongomerat. Sehingga Soeharto harus merubah strategi politiknya, yang sebelumnya cenderung meminggirkan Islam sekarang mulai membuka ruang untuk Islam, agar pendukungnya kuat kembali. Hal semacam ini membuka peluang untuk ormas Islam yang tadinya bergerak diam-diam menjadi lebih terang-terangan.
Gerakan islam ini mengalami perubahan yang cukup signifikan pada tahun 90-an. Ditahun 80-an gerakan radikal-fundamental ini bertindak lebih hati-hati dan bergerak dengan menyusupkan aktivis mereka ke beberapa lembaga pendidikan untuk melakukan dakwah terkait ideologi mereka. Pada saat itu hampir semua kelompok studi Islam mahasiswa telah dimasuki oleh aktivis mereka. Tidak terlewat juga lembaga pendidikan taman kanak-kanak juga dipegang oleh mereka. Walupun saat itu juga sudah muncul gerakan radikal-fundamental yang terang-terangan juga, sebagai contoh adalah peristiwa Talangsari Lampung ( 1982 ), Haur Koneng ( 1985 ), Tanjung Priok ( 1984 ). Namun gerakan ini jauh berbeda dengan gerakan yang muncul pada tahun 90-an, walau berakar pada gerakan sebelumnya.
Pada 90-an gerakan ini mengalami perubahan mendasar dalam hal format dan strategi. Gerakan ini tak hanya terang-terangan, namun juga sudah menggunakan asas Islam sebagai dasar organisasi. Gerakan merka juga mulai konkret, seperti latihan militer dan juga kekerasan juga tekanan terhadap masyarakat. Gerakan ini semakin leluasa ketika tumbangnya rezim Soeharto tahun 1998. Peran aparat negara pada saat itu hingga sat ini sangat lemah, sehingga mereka seolah peran aparat negara diambil alih oleh gerakan ini. Mulai dari masalah perjudian, minuman keras, konflik antar masyarakat. Gerakan ini menjadi contoh gerakan Islam radikal-fundamental saat ini.
Silakan dikritisi.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Selasa, 15 Februari 2011

PKI Juga Punya Agama

Siang itu sedang ada diskusi yang salah satu pembicaranya merupakan orang yang kritis dengan gerakan kiri di Indonesia. Diskusi berjalan begitu menarik, cukup banyak mahasiswa yang antusias mengikuti acara tersebut. mereka cukup tertarik mungkin karena diskusi ini sedikit menyinggung mengenai kudeta yang terjadi pada tahun 1965.
Semakin lama diskusi itu menjadi semakin serius namun tetap mengasyikan, entah suasana itu dibentuk oleh si pembicara atau dari peserta sendiri yang membentuk suasana serius tapi mengasyikan. Tibalah sesi tanya jawab, waktu itu moderator mengajukan untuk memberikan kesempatan untuk tiga penanya, penanya pertama lebih banyak mengomentari isi dari diskusi tersebut, sedang penanya kedua mungkin memliki pertanyaan yang tidak pantas atau mungkin pertanyaan yang sangat bodoh untuk level mahasiswa sejarah.
Si penanya ini baru saja menyelesaikan penelitiannya yang juga terkait dengan peristiwa 65, dia merupakan mahasiswa jurusan sejarah salah satu universitas favorit di Yogyakarta dan terhitung lulus dengan predikat Coumloude. Banyak orang pasti akan berpikir bahwa anak ini begitu cerdas, namun tunggu dulu. Ketika tiba saat dia untuk bertanya, pertama dia menceritakan masalah penelitiannya itu, lalu dia bertanya seperti ini " kok  PKI itu punya agama? Setahu saya PKI kan tak punya agama, dari penelitian yang saya lakukan ternyata banyak komunis yang punya agama kok". Pemateri pun tercengang dengan  pertanyaan seperti itu, saya pun begitu kaget begitu dia tanya pertanyaan yang seperti itu.
Jika saat itu saya boleh menanggapi saya pasti akan kembali bertanya kepada orang itu, hidup di zaman apakah anda itu? Karena pada saat ini cukup lucu membicarakan bahwa PKI itu tak memiliki agama. PKI tak menpunyai agama hanyalah rekayasa yang digembor-gemborkan oleh orde baru sebelum rezim ini runtuh, agar PKI terlihat sebagai sebuah oraganisasi yang kejam dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga dan membuat masyarakat mebenci oraganisasi ini dan PKI tidak akan tumbuh lagi dalam kehidupan masyarakat kita. Pemikiran yang telah menjadi pedoman umum dalam masyarakat kita ini ternyata salah besar. Dalam beberapa cerita mantan tapol ( tahanan politik ) yang saya baca mereka pun punya agama kok, dan sudah sejak SD saya menyadari bahwa orang-orang PKI itu memiliki agama, walaupun guru saya tetap mengajarkan bahwa PKI itu begitu kejam dan tidak beragama.
Dalam beberapa sumber yang saya temukan, PKI hanyalah sebuah partai politik yang memiliki paham komunis. Dari sumber-sumber yang saya dapatkan juga tidak pernah ada yang mengatakan bahwa jika masuk PKI harus tidak memiliki agama, namun sumber resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah orde baru memang PKI tidak mempunyai agama. Tapi pada saat ini kan sudah banyak sumber lainnya yang membahas PKI ini melalui perspektif lain. Apakah mahasiswa saat ini khususnya sejarah tak bisa berpikir lebih kritis lagi mengenai kasus ini. Mungkin jika orang dari luar wilayah sejarah yang tak pernah baca buku, ataupun orang awam itu merupakan hal yang biasa saja, karena pikiran mereka masih terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran orde baru.
Seharusnya sekarang sudah banyak orang yang tidak menanyakan bahwa PKI itu tidak memiliki agama. Karena sudah banyak keluar buku-buku sejarah alternatif. Sudah menjadi tugas mahasiwa sejarah pula untuk mensosialisasikan bahwa orang-orang PKI itu memiliki agama. Sehingga luka yang ditinggalkan oleh orde baru terhadap orang-orang bekas PKI ini terus berkurang, dan membuat pandangan negatif terhadap PKI yang berlebihan juga mulai berkurang. Jadi ayo buat perubahan mulai dari lingkungan sekitar kita!

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Jumat, 11 Februari 2011

Sekelumit Kisah Orang Eksil

Tahun 1965 Indonesia sedang mengalami prahara politik yang merenggut ribuan nyawa manusia. PKI dijadikan kambing hitam dan dicap melakukan sebuah kudeta. Orang-orang yang dianggap berafiliasi dengan PKI dan dianggap Soekarnois memiliki nasib tak menentu.

Sore itu dipinggir pantai di Colombo ( Sri Lanka saat ini ) nampak dua orang sedang bebicara dengan serius. Mereka berdua bukan merupakan orang asli Sri Lanka ataupun India walaupun salah satu dari mereka memiliki warna kulit yang hampir sama dengan penduduk sekitar. Mereka adalah M. Ali Chanafiah, duta besar Indonesia untuk Sri Lanka dan Karobin, duta besar Uni Soviet untuk Sri Lanka.

Ali Chanafiah merupakan orang yang berafiliasi terhadap PKI, mungkin jika dia pulang ke Indonesia penjara dan penyiksaan telah menantinya. Karena tak ingin mengambil resiko, akhirnya dia mencari suaka ke pemerintah Soviet. Di Colombo di mulai menimbang-nimbang senjakala hidupnya sebagai warga negara Indonesia yang terhormat dan memulai perjalanan hidupnya yang tak ia ketahui berakhir seperti apa.

Ali Chanafiah adalah satu dari ribuan orang eksil, yaitu orang yang ada dalam pembuangan atau pengasingan. Kebanyakan dari orang eksil itu merupakan intelektual yang dikirim keluar negri untuk kepentingan belajar ataupun diplomasi. Sebagai sebuah negara yang baru merdeka, Indonesia perlu mengejar ketertinggalannya. Indonesia memerlukan banyak intelektual untuk menyetarakan kekuatan ekonomi-politik-budaya dengan negara-negara berdaulat lainnya.

Namun siapa tahu arah sejarah di masa depan? Sebuah kudeta yang mengkambing-hitamkan PKI terjadi di akhir September 1965. Peta politik pun berubah. Soeharto naik kekuasaan. PKI dan semua yang berhubungan dengannya diberangus. Termasuk orang-orang yang tugas kenegaraan, belajar dan bekerja di luar negri yang dianggap berafiliasi dengan PKI atau dekat dengan ideologi soekarno. Harapan bisa berguna bagi bangsa pun pupus, keahlian yang mereka miliki pun harus dibuang jauh dari ingatan bangsa ini.

Karena mereka tak bisa berhubungan langsung mereka seakan berada dalam ruang sempit. Mereka tidak berada pada penjara riil yang mengurung mereka, namun mereka tidak bisa berhubungan dengan negara mereka sendiri. Sekalipun hidup di dunia dan negeri yang baru itu, jiwa mereka tetap berada di dunia dan negeri yang lama, yaitu Indonesia. Hal ini menciptakan suatu efek psikologis berupa tercerabut dari tanah asal dan tak pernah tertanam di tanah baru. Secara fisik mungkin mereka nampak sehat, namun secara batin mereka pasti mengalami sebuah siksaan yang lebih berat dari penjara itu sendiri.

Orang yang memiliki kecerdasaan itu terpaksa harus menerima pekerjaan apapun untuk bisa bertahan hidup. Menjadi opas kantor, membuka restoran, bekerja di pabrik sebagai buruh, dan kalau lebih beruntung mengajar di Universitas. Mereka mungkin tak bisa lagi menerapkan ilmu yang mereka miliki sebagaimana mestinya. Selain harus menerima pekerjaan apa adanya, mereka juga harus siap berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika mereka tak bisa mendapatkan suaka politik di sebuah negeri atau suaka politiknya dicabut, mereka harus mencari dan terus berjalan sampai ada yang menerima mereka.

Sebagai generasi muda, kita layak mempertanyakan kenapa bagian dari sejarah kebangsaan kita ini dihilangkan? Pada generasi yang lebih tua kami mempertanyakan persoalan ini. Mereka layak memberikan jawaban memadai kenapa hanya sedikit di antara kami yang mengerti sejarah yang telah dilenyapkan oleh rezim Orde Baru tersebut? Ataukah generasi yang lebih tua itu telah mengabaikan pesan Soekarno dalam pidatonya di akhir dekade 60-an: Jangan sekali-kali melupakan sejarah?!

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Minggu, 30 Januari 2011

Si Kancil dan Kelicikan Birokrasi

Teringat sebuah kisah ketika saya masih kecil yaitu cerita Si Kancil. Ketika dan sampai sekarang say belum tahu persis cerita it diciptakan hanya sebagai sebuah dongeng pengantar tidur atau sebagai cerita tentang kecerdikan Kancil dalam mengelabui hewan yang lebih kuat darinya ataupun Pak tani penanam ketimun. Namun sekarang saya mempunyai persepsi lain mengenai cerita Kancil ini.

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk pergi ke desa-desa yang ada disekitar rumah saya di lereng Merapi. Ketika itu saya bertanya kepada beberapa orang tua yang ada di desa saya mengenai cerita ini.Saya ingin tahu kapan cerita kancil ini mulai muncul. Jawaban mereka rata-rata berkisar pada masa penjajahan, karena ketika orang yang saya tanyai itu masih kecil ( sekarang berumur kurang lebih 70 tahun ) cerita itu telah di cerikan kepada dirinya.
Saya mulai berpikir ala seorang ilmuwan canggih mengenai cerita ini. Setelah saya berpikir berhari-hari saya menemukan ingin memutuskan bahwa cerita Kancil bukanlah cerita yang dibuat hanya untuk anak kecil saja, melainkan sebuah kritik secara tidak langsung atas kelicikan pemerintah yang sedang berkuasa pada saat itu. Ilmu mengira-ira saya mengatakan cerita itu sanagat erat kaitannya dengan kritik-kritik terhadap rezim yang berkuasa. Misalnya ketika kancil membohongi gajah yang harus bersembunyi pada sebuah lubang dan sigajah tak bisa lagi kembali keatas. Cerita ini bisa saya ibaratkan ketika zaman jepang dimana orang jawa yang harus masuk bunker atau tempat perlindungan yang lainnya ketika mendengar suara pesawat, namun jepang memiliki maksud lain ketika orang kita sedang bersembunyi itu. Bisa juga di jadikan kritik pada zaman orde baru, kala itu pemimpin yang saya ibaratakan sebagai kancil bisa berkuasa begitu lama karena kelihaiannya dalam memanfaatkan situasi sehingga bisa mengalahkan rakyat yang saya ibaratkan sebagai gajah.

Pada masa-masa seperti penjajahan ataupun orde baru, jika kita mengkritik pemerintahan saat itu memang penjara atau penculikan sudah siap menampung kita. Bahkan tulisan yang merupakn cerita pendek ataupun novel yang didalamnya berisi kritik yang berbahaya pun tak boleh beredar dimasyarakat. Mungkin si Si Kancil ini sarana yang bisa saja menjadi sebuah kritik terhadap kelikikan birokrasi yang ada. Karena jika kita tidak benar-benar memperhatikan dan kritis terhadap cerita ini kita bisa saja berpendapat bahwa itu hanyalah fabel untuk anak-anak kecil saja. Menurut kacamata saya cerita ini lebih dari itu semua.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Senin, 12 Juli 2010

Lintas Agama dan Lintas Etnis


’’bhineka tunggal ika, berbeda namun tetap satu juga”

Hidup dalam negeri yang terdiri atas berbagai macam pulau ini membuat kita memiliki keberagaman dalam hal kesukuan, keagamaan dan kepercayaan, serta dari segi ciri fisik. Keberagaman sudah ada sejak dulu. Dahulu kala, banyak kerajaan yang maju dalam perdagangan, itu membuat banyak pedagang dari berbagai daerah datang dan singgah di wilayah nusantara. Ini membuat percampuran budaya, etnis dan suku semakin meningkat. Kemudian pada zaman kolonial kekuasaan dipegang oleh pemerintah kolonial, mereka melakukan semacam pengkotak-kotakan suku bangsa yang ada di Indonesia. Saat ini keberagaman semakin jelas terlihat pada penduduk Indonesia. Banyak sekali suku bangsa, agama dan aliran kepercayaan yang tumbuh berkembang.

Keberagaman tidak pernah bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari, sebagian dari kita ada yang menyadari itu dan ada pula yang tidak. Namun bagi yang menyadari pentingnya keberagaman, tidak banyak yang memperjuangkan, sebagian orang yang menyadari itu seringkali tak peduli. Beberapa kelompok masyarakat yang bertindak mengancam keberagaman pada saat ini malah bermunculan.

Pernah kita melihat peristiwa yang dapat mengancam keberagaman kita. Misalnya, beberapa bulan yang lalu ada semacam konferensi LGBT digagalkan oleh sekelompok orang yang berbendera salah satu oraganisasi masyarakat. Beberapa tahun yang lalu, juga terjadi pertikaian antar suku yang menimbulkan banyak korban jiwa. Itu hanya sebagian kecil saja kasus mengenai keberagaman yang ada di negeri ini. Dengan berbagai peristiwa itu, timbul pertanyaan di benak saya apakah itu bisa disebut masyarakat kita sudah menghargai keberagaman yang ada?

Keragaman di kalangan pelajar.

 ’’ Sebenarnya peraturan tertulis mengenai kewajiban memakai jilbab di sekolah saya tidak ada. Namun, ada semacam kontrol dari kakak angkatan yang seolah-olah menekan kami. Siswa-siswi non muslim merasa menjadi minoritas di sekolah kami. Ada semacam pengkotakan yang terjadi di antara kami dalam hal keagamaan.”

Kutipan di atas merupakan pembicaraan antara saya dengan salah satu siswi SMA Negeri yang ada di Yogyakarta. Di lingkungan sekolahnya setiap hari terlihat cenderung menerapkan salah satu pandangan dan tafsir agama tertentu. Bahkan, sejak masa orientasi sudah terlihat suasana yang menekankankan aturan-aturan agama tersebut. Misalnya, pemakaian jilbab menjadi seperti diwajibkan padahal tidak ada peraturantertulis tentang itu. Ketika dijumpai seorang siswi muslim yang tidak memakai jilbab, kakak kelas yang mengikuti organisasi keagamaan itu menegur atau menyindirnya. organisasi tersebut mendapat tempat cukup tinggi di sekolah. Hampir semua keputusan diadakan atau tidaknya sebuah acara harus mendapatkan persetujuan dari organisasi tersebut. Salah satu kriteria yang membuat acara itu bisa disetujui adalah kegiatan tersebut harus memisahkan posisi siswa dan siswinya.

Siswa-siswi non-muslim sering merasa tak nyaman dan terpinggirkan ketika belajar di kelas, guru yang mengikuti aliran keagamaan tertentu sering membeda-bedakan antara agama satu dengan yang lain dan mengagung-agungkan aliran keagamaannya. Itu terasa sangat mendiskriminasi. Pembicaraan yang terjadi beberapa waktu lalu itu menjawab rasa penasaran saya mengenai penggunaan jilbab di sekolah negeri. Saya jadi teringat peristiwa yang menimpa komunitas Coret saat mengadakan sebuah acara di salah satu sekolah negeri di Yogyakarta.

Ketika acara akan dimulai, ketua oraganisasi keagamaan sekolah tersebut menegaskan bahwa perempuan yang tidak berjilbab dilarang mengikuti acara tersebut. Saya tanya lebih jauh kenapa bisa seperti itu, mereka menjawab itu sudah menjadi kebijakan dari sekolah. Saya terkejut dengan suasana kehidupan sekolah negeri yang seperti itu. Padahal sekolah negeri merupakan ruang publik yang mestinya bisa diakses oleh semua kalangan dan tidak cenderung pada paham tertentu dalam membuat kebijakan.

Sebenarnya, pemakaian jilbab di sekolah atau di kalangan remaja merupakan hal yang wajar untuk kalangan muslim, tapi bagi yang ingin memakainya. Saya merasa bahwa memakai jilbab atau tidak itu merupakan hak masing-masing. Namun dalam kasus ini, saya melihat ada hal yang begitu berbeda. Sekolah yang mewajibkan siswinya untuk memakai jilbab di lingkungan sekolah sudah mendiskriminasi hak siswinya. Ini menunjukkan adanya keinginan untuk menempatkan satu aliran keagamaan di keseluruhan lingkungan sekolah.

Ketika kebijakan yang berdasar pada salah satu aliran agama tertentu ini terus diterapkan, apakah tidak semakin mendiskriminasi kelompok aliran agama yang lain?

Apakah tidak menyadari realitas keberagaman di negeri ini? Apakah tidak memikirkan kenyamanan belajar siswa-siswi? Dan inikah wajah keberagaman yang akan terus terjadi di sekolah negeri?

Lingkungan lintas agama dan etnis

Saya hidup di keluarga yang benar-benar menjunjung arti keberagaman. Ayah saya seniman, temannya banyak. Mereka sangat beragam, mulai dari ciri fisik sampai orientasi seksual. Mereka berasal dari berbagai kalangan, lintas agama serta lintas etnis. Ini menjadikan sayaaya sering bergaul dengan orang berlatar belakang yang berbeda dalam segala hal.

Saya dididik untuk menghargai setiap perbedaan.. Ketika masih duduk di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, saya sering diajak berkunjung ke, lingkungan gereja Katholik, ke rumah tokoh-tokoh aliran kepercayaan, serta dipertemukan dengan seorang yang pernah memeluk lima agama dan beberapa aliran kepercayaan, termasuk mengikuti ritual keagamaan yang lain. Dari pengalaman itu, saya secara tidak langsung mendapat pembelajaran mengenai pentingnya menghargai keberagaman.

Selain itu, orang tua saya memberikan kebebasan bagi saya untuk bergaul dengan siapa saja, dengan tetap bertanggungjawab. Ketika saya terlibat dalam pembuatan film Jalan Tika, saya bergaul dengan waria. Saya menceritakan pertemanan saya dengan para waria, orang tua saya tidak mempermasalahkannya

Saya merasa prihatin dengan tindakan-tindakan anarkis dari organisasi dan kelompok masyarakat yang selalu membesar-besarkan keberadaan mereka serta merasa sebagai yang paling benar. Seakan-akan mereka memiliki hak dan wewenang untuk mengatur kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbagai aspek. Baik itu gaya hidup, kepercayaan, cara berpakaian, cara berinteraksi dan sebagainya. Bahkan, mereka merasa berhak menghakimi  kelompok lain sesat dan tidak pantas berada di Indonesia. Ini sudah sangat bertentangan dengan semboyan kita yang menjunjung tinggi perbedaan. Tindakan-tindakan anarkhis itu juga mengancam kehidupan keberagaman di negeri ini.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

  ©Blogger Theme by dims dhif merapi 2011

Back to TOP