Jumat, 29 April 2011

teruntuk semua semesta dalam jiwaku.

kupandangi poros antara matahari dan bulan, mereka merupakan pasangan yang bisa menghiasi bumi ini sehinga kita bisa hidup dalam bumi. namun kenapa bulan itu memiliki bercak hitam yang mungkin membuat berat hati dari si matahari? apakah matahari masih bisa menerimanya?

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Rabu, 27 April 2011

teruntuk kepedihan dibatas senja

Matahari itu meredup seraya mataku yang juga meredup karena lelahnya hari ini, lebih meredup lagi ketika aku telah membuat seseorang  lagi terhadap diriku. Ku pandang matahari seolah menambah kecepatan terbenamnya, dan membuat hatiku semakin gelap lagi. Bulan baru pun tak pernah menampakan garis keilnya untuk memberikan sebuah penerangan. Ku hanya menatap pohon besar di sudut tempat ini, aku hanya akan termangu dan seperti biasa air mata ini tertetes tak tentu arah. Aku merasa telah sangat bersalah kepadanya. Namun sepertinya maaf itu tak cukup lagi, air mataku seolah membuat pohon tempatku termangu seolah memelukku dan membisikan sebuah kata, “ bisikanlah maafmu itu dengan lebih dalam lagi dan titipkanlah bisikmu itu kepada angina yang berhembus itu, dan angina akan mengirimkannya langsung ke orang itu”

Tanpa tersadar aku mengikuti saran dari pohon itu dan kubisikan sebuah kata dari kedalaman hati ini

 “ teruntuk cahaya dibatas senja, aku hanya bisa meminta maaf atas kesalahanku yang telah membuatmu mungkin kecewa dengan hari ini, hanya itu yang bisa ku sampaikan. sebenarnya aku sangat ingin merasakan pudding yang telah kau buat jika kau berkenan” 

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Selasa, 19 April 2011

teruntuk pena dibatas kata.


aku melihat semesta yang menjelma menjadi dirimu, semesta yang saelalu melekat pada diriku, apakah juga akan menjadi jiwa ku, karena semesta juga telah memilihmu?

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Jumat, 15 April 2011

teruntuk kepedihan dibatas kata.

aku tak ubahnya anjing yang tak mempunyai tuan, berjalan memutar tak tentu arah, mencari dan menunggu siapa yang akan memberiku makan. Menggonggong pilu mencari perlindungan.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Rabu, 02 Maret 2011

Munculnya Gerakan Islam Radikal-Fundamental 1990-an

Gerakan Islam Indonesia saat ini diwarnai dengan gerakan Islam radikal-fundamental. Gerakan ini mulai muncul secara terbuka pada tahun 90-an. Gerakan ini cukup banyak peminatnya, mulai dari kalangan mahasiswa, pelajar dan kelompok terdidik lainnya.
Pada tahun 70-80an pemerintah bersikap keras pada kelompok-kelompok ini. Jika muncul gerakan Islam radika-fundamentalis sekecil apapun akan diberantas oleh pemerintah. Karena pemerintah beranggapan bahwa gerakan ini dapat mengancam keutuhan negara pada saat itu. Namun kasusnya menjadi berbeda ditahun 90-an. Saat itu Soeharto mulai kehilangan kepercayaan dari kalangan militer dan juga klongomerat. Sehingga Soeharto harus merubah strategi politiknya, yang sebelumnya cenderung meminggirkan Islam sekarang mulai membuka ruang untuk Islam, agar pendukungnya kuat kembali. Hal semacam ini membuka peluang untuk ormas Islam yang tadinya bergerak diam-diam menjadi lebih terang-terangan.
Gerakan islam ini mengalami perubahan yang cukup signifikan pada tahun 90-an. Ditahun 80-an gerakan radikal-fundamental ini bertindak lebih hati-hati dan bergerak dengan menyusupkan aktivis mereka ke beberapa lembaga pendidikan untuk melakukan dakwah terkait ideologi mereka. Pada saat itu hampir semua kelompok studi Islam mahasiswa telah dimasuki oleh aktivis mereka. Tidak terlewat juga lembaga pendidikan taman kanak-kanak juga dipegang oleh mereka. Walupun saat itu juga sudah muncul gerakan radikal-fundamental yang terang-terangan juga, sebagai contoh adalah peristiwa Talangsari Lampung ( 1982 ), Haur Koneng ( 1985 ), Tanjung Priok ( 1984 ). Namun gerakan ini jauh berbeda dengan gerakan yang muncul pada tahun 90-an, walau berakar pada gerakan sebelumnya.
Pada 90-an gerakan ini mengalami perubahan mendasar dalam hal format dan strategi. Gerakan ini tak hanya terang-terangan, namun juga sudah menggunakan asas Islam sebagai dasar organisasi. Gerakan merka juga mulai konkret, seperti latihan militer dan juga kekerasan juga tekanan terhadap masyarakat. Gerakan ini semakin leluasa ketika tumbangnya rezim Soeharto tahun 1998. Peran aparat negara pada saat itu hingga sat ini sangat lemah, sehingga mereka seolah peran aparat negara diambil alih oleh gerakan ini. Mulai dari masalah perjudian, minuman keras, konflik antar masyarakat. Gerakan ini menjadi contoh gerakan Islam radikal-fundamental saat ini.
Silakan dikritisi.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Selasa, 22 Februari 2011

Apa Salah Kami?

Kami memang bebas dari pembunuhan masal yang terjadi tahun 1965-1966, tapi kami tidak akan “dibebaskan” untuk benar-benar mendapatkan kebebesan kami.
Suamiku telah berangkat ke Tiongkok pada pertengahan September 1965 bersama kelompoknya. Aku tak tahu apa-apa saat itu, kenapa suamiku harus meninggalkan keluarga kami saat itu. Aku baru mengetahuinya setelah jam malam diberlakukan pada tanggal 1 oktober 1965. Sehari sebelum diberlakukannya jam malam itu telah terjadi kudeta yang mengkambing-hitamkan PKI, suami saya memang berafiliasi penuh dengan PKI, saya bisa memaklumi ketika dia harus meninggalkan kami.

Aku juga memiliki hubungan dengan PKI, saat itu aku juga bergabung dengan gerwani. Gerwani ( gerakan wanita indonesia ) merupakan sebuah organisasi perempuan yang didirian pada tahun 1954. Organisasi ini memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan juga mendirikan taman kanak-kanak, kursus kebidanan dan juga baca-tulis. Gerwani tidak sepenuhnya memiliki afiliasi dengan PKI namun dimaksudkan sebagai lembaga perempuan partai. Setelah terjadi kudeta organisasi ini pun menjadi sasaran kekejaman dengan dalih telah mengembangkan perzinaan dan memprovokasi perempuan untuk meninggalkan pekerjaan mereka dalam keluarga. Jadi semua anggota gerwani saat itu pun ditangkap dan masuk penjara, tak terkecuali aku.
Anakku yang paling besar kala itu duduk dibangku SMA, sehingga dia aku beri tugas menjaga adik-adiknya walau pada akhirnya mereka aku titipkan di tempat saudaraku sementara saya harus menikmati hidup di balik jeruji besi. Aku tak pernah diizinkan keluar dari sel. Aku dan teman-teman sesama gerwani tidur di sebelah kamar mandi yang bocor. Kondisi sel kami sangat memprihatinkan, makanan yang kami terima pun tidak layak, kadang sayurannya masih kotor jika itu sayur kangkung maka masih ada batang serta serabut akarnya. Karena saya masih dalam proses penyembuhan sakit yang ku derita sebelumnya maka kondisiku pun semakin memburuk kala itu.
Sel yang aku tempati bersebelahan dengan sel para tapol itu. Sering kali saya melihat bahwa mereka dipukuli, disetrum, atau diintimidasi ketika mereka diinterogasi. Saya tak tega melihat para tapol itu yang disuruh keluar dari sel mereka, lalu ditendangi atau dicambuki dengan ikat pinggang tentara, walaupun saya juga sama susahnya tapi saya merasa mereka lebih sengsara. Terakhir kali juga aku melihat temanku yang berstatus tapol tersenyum kepadaku, aku tak tahu sekarang nasibnya seperti apa, yang aku tahu dia dipindahkan ke tempat lain.
Aku selalu bertanya dan mungkin tak akan berhenti bertanya, apa salah yang kami perbuat, sehingga kami harus menanggung beban dosa ini selama hidup kami. Kami tak pernah terlibat dalam perlakuan kejam apapun, hanya beberapa orang saja yang terlibat dalam beberapa peristiwa “itu”, kenapa kami semua harus menanggung akibatnya?

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Selasa, 15 Februari 2011

PKI Juga Punya Agama

Siang itu sedang ada diskusi yang salah satu pembicaranya merupakan orang yang kritis dengan gerakan kiri di Indonesia. Diskusi berjalan begitu menarik, cukup banyak mahasiswa yang antusias mengikuti acara tersebut. mereka cukup tertarik mungkin karena diskusi ini sedikit menyinggung mengenai kudeta yang terjadi pada tahun 1965.
Semakin lama diskusi itu menjadi semakin serius namun tetap mengasyikan, entah suasana itu dibentuk oleh si pembicara atau dari peserta sendiri yang membentuk suasana serius tapi mengasyikan. Tibalah sesi tanya jawab, waktu itu moderator mengajukan untuk memberikan kesempatan untuk tiga penanya, penanya pertama lebih banyak mengomentari isi dari diskusi tersebut, sedang penanya kedua mungkin memliki pertanyaan yang tidak pantas atau mungkin pertanyaan yang sangat bodoh untuk level mahasiswa sejarah.
Si penanya ini baru saja menyelesaikan penelitiannya yang juga terkait dengan peristiwa 65, dia merupakan mahasiswa jurusan sejarah salah satu universitas favorit di Yogyakarta dan terhitung lulus dengan predikat Coumloude. Banyak orang pasti akan berpikir bahwa anak ini begitu cerdas, namun tunggu dulu. Ketika tiba saat dia untuk bertanya, pertama dia menceritakan masalah penelitiannya itu, lalu dia bertanya seperti ini " kok  PKI itu punya agama? Setahu saya PKI kan tak punya agama, dari penelitian yang saya lakukan ternyata banyak komunis yang punya agama kok". Pemateri pun tercengang dengan  pertanyaan seperti itu, saya pun begitu kaget begitu dia tanya pertanyaan yang seperti itu.
Jika saat itu saya boleh menanggapi saya pasti akan kembali bertanya kepada orang itu, hidup di zaman apakah anda itu? Karena pada saat ini cukup lucu membicarakan bahwa PKI itu tak memiliki agama. PKI tak menpunyai agama hanyalah rekayasa yang digembor-gemborkan oleh orde baru sebelum rezim ini runtuh, agar PKI terlihat sebagai sebuah oraganisasi yang kejam dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga dan membuat masyarakat mebenci oraganisasi ini dan PKI tidak akan tumbuh lagi dalam kehidupan masyarakat kita. Pemikiran yang telah menjadi pedoman umum dalam masyarakat kita ini ternyata salah besar. Dalam beberapa cerita mantan tapol ( tahanan politik ) yang saya baca mereka pun punya agama kok, dan sudah sejak SD saya menyadari bahwa orang-orang PKI itu memiliki agama, walaupun guru saya tetap mengajarkan bahwa PKI itu begitu kejam dan tidak beragama.
Dalam beberapa sumber yang saya temukan, PKI hanyalah sebuah partai politik yang memiliki paham komunis. Dari sumber-sumber yang saya dapatkan juga tidak pernah ada yang mengatakan bahwa jika masuk PKI harus tidak memiliki agama, namun sumber resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah orde baru memang PKI tidak mempunyai agama. Tapi pada saat ini kan sudah banyak sumber lainnya yang membahas PKI ini melalui perspektif lain. Apakah mahasiswa saat ini khususnya sejarah tak bisa berpikir lebih kritis lagi mengenai kasus ini. Mungkin jika orang dari luar wilayah sejarah yang tak pernah baca buku, ataupun orang awam itu merupakan hal yang biasa saja, karena pikiran mereka masih terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran orde baru.
Seharusnya sekarang sudah banyak orang yang tidak menanyakan bahwa PKI itu tidak memiliki agama. Karena sudah banyak keluar buku-buku sejarah alternatif. Sudah menjadi tugas mahasiwa sejarah pula untuk mensosialisasikan bahwa orang-orang PKI itu memiliki agama. Sehingga luka yang ditinggalkan oleh orde baru terhadap orang-orang bekas PKI ini terus berkurang, dan membuat pandangan negatif terhadap PKI yang berlebihan juga mulai berkurang. Jadi ayo buat perubahan mulai dari lingkungan sekitar kita!

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

  ©Blogger Theme by dims dhif merapi 2011

Back to TOP