Minggu, 01 Mei 2011

Perasaan Anjing

ku menggonggong dalam dinginnya malam yang tak pernah memberikanku harapan untuk mendatangkan orang yang merawatku. Ku terus berjalan dengan gonggongan yang mungkin tak membuat para manusia itu pilu, namun ini adalah gonggongan sepilu-pilunya dari diriku yang hina.
Ku terpojok di sudut jalan ini,menunggu  hujan reda, buluku yang basah menambah dinginya malam ini. ku melihat seorang yang datang mendekatiku mungkin karena dia peduli. aku dibawanya pulang, buluku dikeringkan, dikasih makan, dirawat dengan baik.
Beberapa hari ku bersama pemilikku yang baru, aku merasa cocok dia untuk menjadi pemilikku, dia begitu baik. ku yakin dia akan menjadi seorang pemilik yang akan menyayangi peliharaannya seperti dia menyayangi suaminya yg belum lama ini entah kemana. maka ku berikan kesetiaan ku sebagai anjing untuk pemilikku yang baru ini.
andai aku bisa menjadi manusia yang sama juga, aku hanya ingin berkata.

"aku memberikan rasa sayang dan kesetiaan ini seutuhnya untukmu, dan apakah kau memberikannya juga, atau hanya kau jadikan teman kesendirian mu, kesendirian yang sedang menerpamu, rasa perih yang membuatmu merasa sendiri pula?"
Namun ku hanya anjing yang selalu setia menjadi temannya dalam kesepian, dan aku sadar bahwa aku mungkin tak dapat kasih sayangnya seutuhnya, karena masih banyak manusia yang siap untuk berada disampingya.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

For You

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Refleksi Pohon

Tak ubah pohon yang sedang tumbuh, kau menumbuhkan pupus hijau daun baru yang akan memberikanmu kehidupan, kau juga menancapkana akarmu sedalam tanah agar kau kuat berdiri dengan tegak melawan dunia ini. Suatu ketika pupusmu yang telah layu itu jatuh dan mulai mengering dan mulai membusuk meninggalkanmu. Kau tetap harus menumbuhkan pupus barumu, namun kau benar-benar masih teringat dan tak ingin berpisah dengan pupus pertamamu karena itu merupakan nafas pertama yang memberikanmu banyak harapan dan kenangan. Kau mungkin tak kan pernah lepas dari daun yang telah jatuh membusuk meninggalkanmu. Namun kau juga harus mencoba untuk menjaga, menyayangi atau tidak menyakiti pupus barumu yang baru saja tumbuh, karena mungkin dia adalah nafasmu.
Banyak kenangan dan arti yang telah ditinggalkan oleh daun yang entah kemana perginya, semua itu telah berlalu, kau harus menatap apa yang ada pada dirimu sekarang. Apakah kau akan tega membuat sakit dan membuatnya selalu menangis? Apakah kau merasakan sakitnya jika pupus itu tahu bahwa dalam sel yang mengealir di batangmu bukan untuk pupus barumu itu namun sudah terbagikan untuk pupus yang lainnya?

kadang kita harus membuang sesuatu dari hidup ini untuk menatap kedepan dan membuatnya menjadi lebih baik.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Jumat, 29 April 2011

teruntuk semua semesta dalam jiwaku.

kupandangi poros antara matahari dan bulan, mereka merupakan pasangan yang bisa menghiasi bumi ini sehinga kita bisa hidup dalam bumi. namun kenapa bulan itu memiliki bercak hitam yang mungkin membuat berat hati dari si matahari? apakah matahari masih bisa menerimanya?

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Rabu, 27 April 2011

teruntuk kepedihan dibatas senja

Matahari itu meredup seraya mataku yang juga meredup karena lelahnya hari ini, lebih meredup lagi ketika aku telah membuat seseorang  lagi terhadap diriku. Ku pandang matahari seolah menambah kecepatan terbenamnya, dan membuat hatiku semakin gelap lagi. Bulan baru pun tak pernah menampakan garis keilnya untuk memberikan sebuah penerangan. Ku hanya menatap pohon besar di sudut tempat ini, aku hanya akan termangu dan seperti biasa air mata ini tertetes tak tentu arah. Aku merasa telah sangat bersalah kepadanya. Namun sepertinya maaf itu tak cukup lagi, air mataku seolah membuat pohon tempatku termangu seolah memelukku dan membisikan sebuah kata, “ bisikanlah maafmu itu dengan lebih dalam lagi dan titipkanlah bisikmu itu kepada angina yang berhembus itu, dan angina akan mengirimkannya langsung ke orang itu”

Tanpa tersadar aku mengikuti saran dari pohon itu dan kubisikan sebuah kata dari kedalaman hati ini

 “ teruntuk cahaya dibatas senja, aku hanya bisa meminta maaf atas kesalahanku yang telah membuatmu mungkin kecewa dengan hari ini, hanya itu yang bisa ku sampaikan. sebenarnya aku sangat ingin merasakan pudding yang telah kau buat jika kau berkenan” 

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Selasa, 19 April 2011

teruntuk pena dibatas kata.


aku melihat semesta yang menjelma menjadi dirimu, semesta yang saelalu melekat pada diriku, apakah juga akan menjadi jiwa ku, karena semesta juga telah memilihmu?

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

Jumat, 15 April 2011

teruntuk kepedihan dibatas kata.

aku tak ubahnya anjing yang tak mempunyai tuan, berjalan memutar tak tentu arah, mencari dan menunggu siapa yang akan memberiku makan. Menggonggong pilu mencari perlindungan.

Waos Sedoyo,Baca Selengkapnya,Read More...

  ©Blogger Theme by dims dhif merapi 2011

Back to TOP